Languages Available: ....

SBY menang quick count pilpres dengan modal senyum




Kalau biasanya untuk jadi artis cukup dengan modal tampang, sekarang untuk jadi presiden cukup dengan modal senyum. Ada-ada aja memang negeri ini. Betapa tidak, situs Kompas mengatakan SBY menang dalam perolehan quick count karena kepribadiannya menarik (tentu identik dengan senyuman). Dengan ini, ia mengalahkan para pesaingnya ( Megawati dan Jusuf Kalla ) dengan telak.

Coba bandingkan senyuman SBY dengan Soeharto. Keduanya sama-sama menyipitkan mata kalau tersenyum/tertawa. Hehehe.. Kalau senyuman maut Suharto bertahan selama 32 tahun, berapa lamakah SBY mampu membuai masyarakat dengan senyumannya itu? Well, kemungkinan besar kita akan tetap menghadapi senyum maut itu 5 tahun kedepan. :-)

Ciri khas kepribadian dan senyuman SBY inilah yang mungkin tidak dimiliki pesaingnya. Senyuman Megawati lebih sering terkesan dipaksakan. Sementara Jusuf Kalla, meskipun ia tulus, senyumannya tidak terlalu mengesankan. Tentu ini mempengaruhi opini publik dalam menilai karakter dan profil para calon presiden. Nah, kepribadian dan senyuman siapa yang lebih hebat, itulah yang dipilih.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat memilih dengan cara demikian? Dugaan saya, itu dipengaruhi karakter yang umum dimiliki orang Indonesia. Orang Indonesia lebih suka dengan pemimpin yang punya kepribadian (misalnya ramah dan dekat dengan rakyat), daripada pemimpin yang benar-benar bisa membawa perubahan. Kepribadian yang menariklah yang ideal di mata mereka. Terlepas apakah ia seorang yang berkualitas atau tidak, yang penting ia mampu membuai masyarakat.

Kemenangan SBY juga dipengaruhi oleh budaya paternalistik masyarakat umumnya. Orang Indonesia lebih suka profil seorang bapak daripada seorang ibu untuk jadi pemimpin rumah tangga Indonesia. Dan sayangnya, hal itupun tak bisa dipenuhi Kalla. Mungkin karena tubuhnya yang kecil dan kontras dengan SBY membuat keduanya seperti ayah (SBY) dan anak (Kalla). Itu sebabnya SBY jadi pilihan nomor satu, Megawati jadi nomor dua, dan Kalla jadi nomor tiga.

Namun itu semua cuma dugaan. Hehehe. Jangan dianggap serius. Yang paling penting, saya cuma berharap agar siapapun yang menang pilpres nanti, ia juga harus mampu membuat masyarakat tersenyum. Senyum yang berkualitas tentunya. :-)

Bagaimana pendapat Anda??

About the author

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing Pendeta Gereja HKBP yang sekarang tinggal dan melayani jemaat di Bengkulu Utara. Peran utamanya di situs ini adalah sebagai editor dan penulis tetap. Tulisannya yang Anda baca kebanyakan adalah Khotbah Minggu, Renungan Harian, Kehidupan Kristen, Ajaran Gereja, dan sejumlah artikel lain.

Komentar terbaik Anda:

XHTML: Anda dapat menggunakan kode-kode ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Setelah Epiphanias